Kebudayaan

  1. Hole
    1. merupakan suatu upacara budaya masyarakat Sabu yang dilakukan secara massal demi kemakmuran manusia, ternak dan tumbuh-tumbuhan. Pada dasarnya inti kegiatan Hole adalah pengantaran hasil panen penduduk / masyarakat beserta dua gendang dari rumah upacara masing-masing Da'u Ae (menyiduk banyak) dan Latia (kilat) menuju Pulau Raijua yang diyakini sebagai tempat asal tanah untuk membentuk Pulau Sabu
    2. Pengantaran Masakan. Dalam kegiatan ini para isteri mengantar masakan ayam ke rumah mereka masing-masing untuk suami/bapa dan saudara laki-lakinya. Tujuan pemberian ini adalah selalu terpeliharanya hubungan dengan pihak pemberi perempuan yang merupakan sumber / pewaris / penerus keturunan. Kemudian kegiatan lainnya adalah pada hari Hape Pertama dilakukan upacara "siram kuburan" atau Bui Dare baik bagi mereka yang mati manis maupun mati asin setahun terakhir. Terdapat kepercayaan mereka bahwa dalam upacara itu telah hadir menjemput roh mereka yang telah mati.
    3. Memakan isi ketupat diatas batu upacara Luji Riru. Merupakan satu kegiatan / upacara penting dalam kegiatan Hole, dibawah kepemimpinan Deo Rai (Luji Riru dalam mitos orang Sabu adalah pengambilan tanah dari Pulau Raijua kemudian menghambur-hamburkan tanah itu dari ketinggian Gunung Merabbu dan saat itu terbentuklah Pulau Sabu yang kemudian mereka diami dan menganggapnya sebagai ladang). Bagi mereka yang memakan isi ketupat ditempat upacara ini percaya dan yakin bahwa hasil panen dikemudian hari akan menjadi lebih baik dari hari yang diperolehnya saat ini.
    4. Gao Dere Lingo Dere. Sebuah kegiatan yang dilakukan sejak matahari terbenam hingga besok harinya sesuai tahapn kegiatan adat yang dilakukan. Kegiatan ini berlansung di Pulau Raijua. Dua gendang yang digantungkan di pohon sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan ini diatas kemudian diolesi minyak kelapa harum oleh Deo Rae dan Rue Gendang Da'u kemudian digantung kembali ke pohon itu. Sedangkan Latia tetap ditempatkan di altar sambil dikelilingi oleh masyarakat dan Deo Rae menabuh gendang Latia sambil menyampaikan pujian/nyanyian (Buru Ho dan hoda Ngara Rae) permohonan agar panen dapat berkunjung kembali masa berikutnya.
  2. Gao Dere Lingo Dere. Sebuah kegiatan yang dilakukan sejak matahari terbenam hingga besok harinya sesuai tahapn kegiatan adat yang dilakukan. Kegiatan ini berlansung di Pulau Raijua. Dua gendang yang digantungkan di pohon sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan ini diatas kemudian diolesi minyak kelapa harum oleh Deo Rae dan Rue Gendang Da'u kemudian digantung kembali ke pohon itu. Sedangkan Latia tetap ditempatkan di altar sambil dikelilingi oleh masyarakat dan Deo Rae menabuh gendang Latia sambil menyampaikan pujian/nyanyian (Buru Ho dan hoda Ngara Rae) permohonan agar panen dapat berkunjung kembali masa berikutnya.
  3. Puru Hogo
    • Ritual yang dilakukan pada musim kemarau yaitu sebagai tanda mulai menyadap Nira dan memasak gula. Kegiatan ini dilakukan pada bulan purnama karena dua hari setelah bulan purnama, Pulodo Wadu (leluhur matahari kemarau) dan Deo Rai (dewa tanah) menangkap seekor babi dan domba milik pribadi untuk disembelih di pondok tempat gula diproses.
    • Tujuan ritual ini adalah untuk memanggil mayang dan air tuak atau nira. Kemudian tiga hari sesudah upacara itu Pulodo dan Deo memasak gula. Setelah itu barulah masyarakat umum boleh menyadap dan memasak gula. Kegiatan ini berlansung kurang lebih dua bulan. Deo rai kembali menangkap seekor domba dan seekor ayam untuk dipersembahkan kepada "Deo" (Tuhan) pada suatu tempat bernama Tunumanu di Kampung Raeniaele dengan tujuan memohon agar phon-pohon lontar mempunyai banyak mayang dan nira. Di daerah Raijua kegiatan ini disebut Rokoko yang hanya dilakukan sekali dengan babi, kambing dan ayam sebagai persembahan yang dibawa ke tepi laut yaitu Deo Rai. Ketita membawa persembahan ketempat Lewowawi , Deo Rai Nadega di tempat Wowed an Deo Rai Nadaibu di tempat nama Walauu.
  4. Baga Rae
    • Ritual menutup kembali tungku masak gula atau sebagai upacara tanda berakhirnya pekerjaan memasak gula. Kegiatan ini juga ditandai berbagai upacara persembahan berupa babi, anjing, domba dan sesajian lainnya. Binatang atau hewan yang disembelih pada dasarnya bermaksud untuk melihat darah binatang itu apakah banyak atau tidak. Apabila darahnya banyak, maka itu berarti pada tahun ini hujan akan turun dalam jumlah yang banyak hingga makanan pun melimpah. Kegiatan ritual lainnya dilakukan dengan pola yang smaa dengan tujuan menutup mulut tanah agar tidak menelan korban, ada ritual yang dilakukan dengan membawa persembahan ke batu pamali dengan tujuan memagari negeri agar musuh tidak masuk, penyakit tidak masuk, makanan tidak keluar agar masyarakat tidak mengalami kelaparan dan sebagainya. Begitu pula ritual - ritual lainnya yang dilakukan sesuai dengan tradisi dan kebiasaan yang berlaku dalam takwim Baga Rae ini.
  5. Djali Ma
    • Suatu ritual yang diselenggarakan dalam menyambut musim hujan dan mengawali pembersihan lading. Kegiatan ini terjadi pada bulan Ko'o (Oktober - November). Selama bulan ini semua orang diharuskan untuk mengerjakan ladangnya. Menyambut pekerjaan ini seluruh penduduk pun dilibatkan dengan memberikan pengumuman agar dapat membersihkan ladangnya. Pemberitahuan ini dilakukan melalui pemukulan gong sebanyak sembilan kali di Nadea kemudian dibunyikan keliling sebagai tanda untuk memperhatikan musim pembersihan lading.
    • Pada hari berikutnya dewan Mone Ama menyediakan bibit kacang hijau dan jagung. Kemudian mempersembahkan seekor ayam yang disembelih di batu pamali di Demi Deo (rumah jabatan Deo Rae) dengan tujuan memanggil hujan. Setelah itu para anggota Mone Ama menanami lading Deo Rae dan Deo Rae menyiapkan makanan dan minuman.
    • Kemudian esok harinya penanaman dilakukan diladang Pulodo dan hari berikutnya masing-masing. Setelah menanam, kegiatan diakhiri oleh Nga'a Djemali Ma yang artinya Makan Pemali Djeli Ma yang dilakukan setiap orang sebagai makan yang terakhir. Seduah itu dilanjutkan dengan cuci kepala dengan santan air kelapa dan mandi. Dikatakan pula bahwa setelah makan pamali Djeli Ma, seekor kambing betina abu-abu disembelih dan dimasak dibagian belanag bani deo. Semua cirit dari kambing itu diletakkan di loteng Bani Deo dengan maksud dapat menarik binatang "Rao", berdekatan agar hujan segera turun. Mone ama menyiapkan bibit kacang hijau dan jagung dan sebelum penanaman Diwali dengan menangkap ayam untuk dipersembahkan pada Batu Pamalidi Bani Deo yaitu batu untuk memanggil hujan, para anggota Mone Ama mulai menanam lading Deo Rai sebagai imbalan Deo Rae menyediakan makanan untuk para pekerja.
    • Kegiatan ini disebut "Nga'a Penuma". Kemudian Pulodo menanam ladangnya baru seterusnya setiap penduduk menanam lading masing-masing. Pada bulan November - Desember bahkan hingga bulan Januari tidak ada kegiatan ritual adat yang dilakukan, kecuali kalau hujan tidak kunjung turun. Ketika musim hujan tiba dijelaskan bahwa para anggota dewan Mone Ama mengadakan ritual untuk (1) memanggil hujan, membersihkan ladang, (2) menanam lading, dan (3) upacara sesudah panen yaitu keramaian yang diiisi dengan taji ayam, pacuan kuda, dan hole.
  6. Hanga Dimu
    • Upacara memungut hasil panen. Kegiatan ini dilakukan disetiap tempat dalam waktu yang berbeda-beda. Isalnya di daerah Seba dilakukan pada bulan Januari - Februari. Mehara dan Liae terjadi pada bulan Februari - Maret. Panen dilakukan / diawali Pulodo dan Deo rae dengan memungut Kacang hijau, dilanjutkan dengan makan hasil baru Nga'a Hanga Dimu. Sesudah itu semua orang boleh memungut hasil kacang hijaunya. Sebagai akhir dari kegiatan ini adalah sabung ayam.
  7. Daba
    • Dalam tahun Takwim Sabu (Februari - Maret) adalah kegiatan panen jagung. Kegiatan hiburan yang dilakukan dalam panen ini adalah menunggang kuda pada sore hari dan pada hari berikutnya Pado'a (tari-tarian). Kegiatan ini dilakukan secara berturut-turut dari kampung ke kampung. Kegiatan lainnya adalah permandian anak-anak yang belum mendapat Daba (permandian adat). Menyambut kegiatan ini para orang tua anak menyiapkan sirih pinang dan kopra . Permandian tidak seperti lazimnya dilakukan di gereja tapi dilakukan dengan acara adat di rumah yaitu sirih pinang dikunyah kemudian ditaruh dalam sebuah tempurung kelapa dan orang tua anak (bapak) mencelupkan jarinya kemudian membuat tanda X pada dahi dan kedua pipi anaknya sambil mengangkat anaknya ke atas secara berturut-turut tiga kali. Bersamaan dengan itu orang tua anak memohon berkat dari Deo (Tuhan). Kegiatan permandian (dabba) berakhir/sah dengan membawa anak ke kali dan dicelupkan kedalam air sebanyak 3 kali artinya secara sah dibaptis. Kegiatan ritual ini dilaksanakan sesuai kebiasaan yang berlaku serta diisi dengan taji ayam di medan yang khusus untuk itu.
    • Sesudahnya orang-orang yang hari tidak kembali kerumah karena semua ayam yang mati atau dimenangkan ditambah dengan daging seekor kerbau yang dipotong dibagikan kepada semua yang hadir. Pada bulan Maret-April tidak ada kegiatan adat tetapi pado'a tetap berlansung setiap malam disemua tempat sesuai dengan kesukaan masyarakat hingga memasuki bulan April - Mei.
  8. Banga Liwu (April-Mei)
    • Kegiatan mendinginkan kapas, kelapa dan pinang kandang domba, kerbau dan babi. Di setiap wilayah kecamatan, kegiatan ini tidak serempak dilakukan. Tetapi disesuaikan dengan musim tanam dan hasil panen pada masing-masing daerah seperti halnya di Mesara bulan April dan Mei, sedangkan di Liae dilakukan pada bulan Mei - Juni. Dalam acara ini kegiatan yang dilakukan adalah menunggang kuda.
      Kegiatan menunggang kuda pada hari berikutnya yakni pada saat bulan purnama 15 malam, ditiadakan pesta "Nga'a banga Liwu" peringatan akan anggota keluarga yang meninggal. Ritual yang dilakukan adalah pada malam hari setiap orang melewati kuburan keluarganya dan meletakkan sirih pinang, kopra, tebu dan kelapa diatas kubur. Sedangkan di rumah telah disiapkan santapan untuk makan bersama anggota keluarga. Kegiatan ini dilakukan dengan keyakinan bahwa anggota keluarga yang meninggal diundang untuk makan bersama.
    • Kegiatan hiburannya adalah pado'a, taji ayam, sedangkan pada hari ketujuh sesudah bulan purnama pesta yang dilakukan adalah pesta makan "Hole", yaitu bersyukur kepada "Deo Woro, Deo Penji" atas hasil panen yang diterima hiburan telah berlangsung.
  9. Hole
    • Sebagai pengantaran panen yang diperoleh pada bulan Banga Liwu yaitu antara pertengahan April sampai pertengahan Mei. Intinya adalah pengantaran berupa hasil panen penduduk menuju Pulau raijua yang dianggap sebagai tempat asal tanah untuk membentuk Pulau Sabu.
  10. Made
    • Made adalah ritual kematian. Dalam menyikapi kematian masyarakat Sabu mengklasifikasi prosesnya dalam dua jenis yaitu Made Natta (mati manis) artinya kematian wajar yang didahului sakit dan Made Harro (mati asin), artinya kematian tidak wajar, seperti mati bunuh diri, jatuh dari pohon dan lain sebagainya. Dalam tradisi orang Sabu apabila ada kematian, maka keluarga tidak diperkenankan menangisi jenasah sebelum dimandikan. Penempatan jenazah berbeda antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.
    • Sebagaimana lazimnya sebuah kematian, jenazah biasanya disemayamkan dahulu pada sebuah peti dan sesudahnya dikuburkan. Tradisi orang Sabu biasanya jenasah akan ditempatkan pada satu tempat sandaran terbuat dari kayu wiu dan lima batang pelepah kelapa yang menyerupai tangga. Kemudian jenazah diikat pada tempat sandaran tadi dengan kedua lutut dan tangannya pada dada dan didudukan di atas sebuah batu khusus untuk itu. Ritual selanjutnya adalah musyawarah pemakaman. Paling kurang ada lima jenis/tahap upacara kematian. Oleh karena itu, setiap ada kematian keluarga harus bermusyawarah untuk menetapkan upacara dipilih.
    • Kelima upacara tersebut menurut J.J Detaq adalah
      1. Labu Amu, yaitu ritual kematian sederhana, yaitu jenazah dikuburkan sehari setelah kematiannya. Ritual yang dilakukan adalah penaburan minyak babi dan kopra yang di potong-potong di atas kuburan. Kayu tempat sandaran mayat serta tali temali yang digunakan dibuangpada tempat yang bernama kehale. Sehari setelah itu barulah makan bersama secara sederhana sebagai tanda ucapan terima kasih kepada pelayat;
      2. Ha'e Awu apabila tahapan ini yang dipilih, maka ritual diawali pemotongan hewan (kerbau) dan dagingnya dibagi-bagikan kepada pelayat non-keluarga. Pada saat penguburan, kayu tempat sandaran mayat ditinggalkan dikuburan kemudian besoknya diambil dan dibuang ke tempat yang bernama Kehale. Sedangkan batu tempat meletakkan tangan disimpan dan akan dimanfaatkan lagi apabila adalagi diantara keluarga yang meninggal. Nilai dari upacara ini akan ditentukan oleh kemampuan keluarga yang meninggal.
      3. Kewure, yaitu upacara yang sama halnya dengan upacara Ha'e Awu, namun bedanya adalah daging kerbau dan kuda yang dipotong dibagikan dengan cara berebutan.
      4. Para Ki'i adalah sebuah ritual /acara yang dilakukan pada saat.

In a Nutshell

Savu is located in the Lesser Sundas of eastern Indonesia (Nusa Tenggara Timur) half way between Sumba and Timor. The Savu archipelago includes Savu, Raijua and Dana and gave its name to the sea bordering Flores, Timor and Sumba. The Savu archipelago is part of the Savu Sea Marine National Park, whose aim is the protection and conservation of all types of marine mammals such as whales, dolphins, dugongs and turtles.

The Climate is dry for most part of the year. The rainy season from December to March brings irregular, but heavy rain and its share of floods near the coasts. Due to the scarcity of water the island produces few agricultural goods. It does allow one harvest of corn, mung beans, sorghum, tubers (cassava, taro), and cucurbitaceae (gourds, pumpkin, cucumber). Wet rice is restricted to the fewareas of the island which can be irrigated.

During the six to nine months of the dry season all river beds are dry and water supply is a main concern in the archipelago. The dry season is known here asawe menganga (musim lapar, B.I.), the hungry season. The sap the lontar palm tree provides an essential source of nutrition

Savu has numerous white sandy beaches, protected by reefs. Some beaches played a role in history like the beach between the harbour of Seba and the walled village of Bodo; it served as a landing place for Captain James Cook and his crew in 1770.

The beach of Uba Ae in Mesara hosts the most important ceremony of the year, kowa hole, where a ceremonial boat is launched out to sea.

Uba Ae in Mesara, as well as beaches of Raijua, is visited by surfers.

Gathering of sea food on reefs, small scale fishing activities, gathering of sea salt, sea weeds farming. Sea salt gathering using large shells or lontar containers has been a traditional activity on Savu and Raijua. In the last fifteen years seaweed farming has developed along the west and southeast coasts, bringing a new source of revenue to those living near the beaches.

Things to DO at Sabu Raijua

    • Wisata Alam

      Wisata Alam

      Sabu Raijua memiliki Objek Wisata Alam yang mempesona yang terletak di beberapa titikdestinasi salah satunya adalah Wisata alam Kelabba Madja Di Kec. Hawu Mehara

    • Wisata Bahari

      Wisata Bahari

      Wisata Bahari Sabu Raijua memiliki karateristik Pantai dengan pasir berwarna putih

    • Wisata Budaya

      Wisata Budaya

      Sabu Raijua memiliki obyek wisata budaya yang unik dan menarik seperti perkampungan adat megalitik, dan ritual adat yang dapat menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun manc ...

    • Wisata Buatan

      Wisata Buatan

      The megaliths of Savu are natural wonders. They are not burial places, but physical time markers. They were dragged to ritual places from various parts of the island.

    • Kalender Adat

      Kalender Adat

      Each domain of Savu has its own ritual calendar (kalender adat or kew�hu rai, the knots of the land) as well as a specific number for calculating the day of a ritual in the lunar ...

    • Upacara Adat

      Upacara Adat

      A village of origin or rae kepue is (or was) fenced, has a number of houses of the type èmu rukoko, a ritual place and sacred stones

    • Tarian Tradisional

      Tarian Tradisional

      Ceremonies of the adat calendar are linked to the traditional religion Jingi tiu. They are held for the well-being of the population, for connecting people with their ancestors

    • Agama Suku

      Agama Suku

      Traditional houses on Savu bear witness to a rich historical and cultural legacy. Today they still can be seen in all parts of the island, fulfilling their purpose as identity mark ...

    • Tenunan

      Tenunan

      The lontar palm tree has been for centuries the tree of life for the Savunese who drink its sap during the dry season. Every part of the tree is used in everyday life and for cerem ...