Sejarah Sabu Raijua

Seperti kebanyakan pulau di daerah sekitarnya, Pulau Sabu mungkin telah dihuni semenjak jaman Neolitic. Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa goa Lie Madira di daerah Mesara pernah dihuni sekitar 6000 tahun silam. Dan sangat mungkin bahwa migrasi bangsa Austronesia pada millenium awal telah membawa penduduknya ke daerah Sabu.

Jika keturunan atau silsilah yang disebarkan oleh para pemuka agama tradisional digunakan sebagai alat pengukur waktu, maka masa pembentukan Sabu akan berhubungan erat dengan masa di saat milenium awal yaitu zaman Sriwijaya. Berdasarkan catatan yang ada, suku-suku kala itu terlahir dari keturunan dua kakak beradik laki-laki, Dida Miha dan Ie Miha.

Pada tahun 1970an dua kapak perunggu kuno yang digunakan untuk upacara-upacara adat ditemukan di daerah Seba. Salah satu kapak disimpan di Museum Provinsi setempat di Kupang. Kapak ini ditemukan didalam cetakan dan dalam kondisi yang masih bagus. Kapaknya tidak bisa diteliti karena kondisi situs tersebut dalam keadaan teracak.

Sabu tidak termasuk dalam daftar jajahan Kerajaan Majapahit (abad ke 12-14). Namun dalam beberapa situs dan di beberapa benda kuno, terutama yang ada di pulau Raijua, terdapat sebutan Maja. Banyak orang mengaitkan sebutan Maja itu pada keberadaan pemukim di pulau tersebut dalam masa Majapahit (dan bahkan beberapa orang percaya bahwa Gajah Mada sendiri pernah tinggal di Raijua).

Sampai saat ini tidak ada sumber-sumber informasi dari zaman Portugis mengenai Sabu dan Raijua yang telah ditemukan. Selang beberapa ratus tahun setelah kedatangan bangsa Portugis, Sabu disebutkan dalam dokumen Belanda tahun 1648.

Pada tahun 1674, kapal de Carper milik VOC menabrak batu karang di daerah Dimu. Kapal tersebut dirampok dan awaknya dibunuh. Dengan bantuan para raja atau pemimpin dari suku Amarasi (Timor), suku Termanu (Roti) dan suku Seba, VOC berhasil mengepung benteng Hurati di daerah Dimu selama beberapa bulan. Tidak mampu menembus pertahanan benteng tersebut, pasukan tentara VOC dan bantuannya mundur, akan tetapi seluruh kekuasaan Sabu tetap diminta untuk membayar denda yang tinggi kepada Belanda.

Pada tahun 1756, VOC menandatangani perjanjian dengan lima daerah kekuasaan Sabu; Seba, Mesara, Menia, Dimu dan Liae. Setelah beberapa orang penduduk memeluk agama Kristen pada masa awal kependudukan Portugis dan Belanda, Kristenisasi dan pendidikan menjadi berkembang dengan perlahan di Sabu dibanding kepulauan lain seperti Roti, Timor atau Flores.