Pelaksanaan ritual minta hujan di sabu

Pelaksanaan ritual minta hujan yang di lakukan para Mone Ama wilayah Adat Hawumahara sesuai kalender adat Hawumahara.

Para pelaku ritual ini terdiri dari dewan Mone Ama yang mempunyai fungsi dan tanggung jawab masing-masing sesuai Struktur Organisasi Adat Mone Ama Hawu Mahara, terdiri dari;

  • Rato Mone Pidu
  • DeoRai/ Dewa Rue
  • Kenuhe
  • Pulodo Jilai
  • Pulodo Wadu
  • Maja
  • Do Heleo
  1. Pulodo Jilai bertanggung jawab terhadap musim tanam hingga saat panen salah satu tanggung jawab atau tugas pulodo jilai jika curah hujan kurang atau tidak ada/hanya sekedar saja maka pulodo jilai berkoordinasi dengan pemangku adat jakawai di kampung adat Wuirai Desa Lederaga untuk menyiapkan hewan berupa satu ekor domba jantan, satu ekor babi betina dan satu ekor anak ayam untuk disembelih diatas mesba batu ritual. Yang melakukan ritual adalah Kenuhe/ Pa Lededi bantu Pulodo jilai Tahe Ga dan mone ama jakawai 2 orang
  2. Kenuhe melakukan sajian
  3. Pulodo jilai bertugas menyiapkan menu dalam piring sajian
  4. Mone ama jaka wai Doko Haba dan Lodo Tari menyiapkan hewan kurban sampai dimasak menjadi dading sajian.

Namun sebelum di lakukan sajian Mone ama jakawai menyiapkan tombak/kepoke dan diletakan di atas tikar, siri, daun siri, pinang muda tiga tandan, kopra/kelapa kering. Kelapa kering dibentuk menjadi tiga bundar  berbentuk Koin masing-masing diberi nama Liru Balla, Dahi Balla, Raiballa.

Pelaku Ritualnya adalah kenuhe dengan mengambil tempat diatas batu altar dibawah pohon beringin dalam kampung adat jakawai dalam posisi duduk sambil memegang tombak/kepoke dan mengangkat 3 potong kelapa kering yang telah dibentuk dan diberi nama lalu dibuang pelan ke atas sambil dia berbicara dengan para-para dewa sebagai penguasa jagat raya
tujuannya untuk mengetahui masalah mengapa sehingga hujan tidak lancar turun ke bumi jika kopra/kelapa kering ke tiga-tiga nya terbuka ke atas maka masalahnya datang dari langit, laut dan darat, maka mata tombak inilah yang akan mencari tahu apa penyebabnya.

Mata tombak ditancap pada tiang/pilar kayu mesba ritual dalam kampung adat wuirai sebagai tempat ritual pertama.
Setelah acara di tempat pertama tiba saatnya Kenuhe menyerahkan tombak kepada Pulodojilai dan di instruksikan untuk segerah  keluar dari dalam kampung adat untuk mencari hewan masyarakat/Hidubadarai berupa 1 ekor domba jantan, satu ekor babi betina baik  yang ada di padang pengembalaan atau sementara diikat/dalam kandang.

Cara menangkap hewan masyarakat, pulodo mengacungkan tombak kearah dimana hewan tersebut berada lalu hewan tersebut di bawa ketempat  ritual ke dua yaitu di pantai uju Desa Lederaga sebagai tempat yang telah disiapkan secara turun temurun oleh para leluhur dan sampai sekarang masih dipertahankan sebagai tempat pemujaan para mone ama.

Para mone ama setelah melakukan perundingan tentang teknik pelaksanaan ritual mereka beranjak menuju pantai uju dengan jarak 500 meter  dari tempat perundingan. Ditempat ritual para mone ama mampir pertama dibatu Piga Hina baru menuju batu kuburan Ju Deo, dilubang batu ju Deo para mone ama sempat menyodorkan siri pinang, kacang hijau yang diletakan di atas batu tungku sembari menyampaikan tujuan  kedatangan mereka ke tempat itu. selang waktu 5 menit mereka/para mone ama mengambil seekor babi tenak betina lalu dimandikan dengan Kelapa wangi dan wangi-wangian lainnya. kenuhe yang melakukan ritual itu sambil bicara dengan Ju Deo, sesudah itu babi dibawa oleh mone  ama jaka untuk bunuh dikelola sebagai daging sajian didepan gua.

Pada saat babi dibunuh Kenuhe mengambil seekor anak ayam lalu dipersembahkan  di lubang batu Ju Deo, setelah itu kenuhe dan pulodo kembali meletakan destar dan kebas-kebas rambut diatas batu piga hina sambil menyiram air  dan membasahi kedua mone ama yang melakukan ritual.

Setelah babi dibersihkan para mone ama sambil mengamati hati babi, sesudah itu daging babi diberikan kepada Ibu-ibu untuk dimasak. Setelah setengan jam kemudia daging babi telah masak siap untuk disajikan dibatu Ju Deo dan didara rae Hawu Miha, setelah itu kembali  ke batu piga hina untuk mengenakan kembali destar dan selimut adat untuk melanjutkan ritual melewati batu paji rai/ paji hawu miha dan hegara rai  guna melakukan ritual pa kattu rai/ dikepala atau ujung Sabu. Yaitu ditanjung kenoto masuk kedalam gua dan lakukan ritual sambil mandi  air dalam wadah dengan mempergunakan kaba tadda ei loko. Selanjutnya kembali ketempat semula dan melakukan makan adat bersama dan beberapa saat kemudian tampak langit menghitam dan hujan turun membasahi pulau Sabu Raijua.