Agama Suku

Agama tradisional, Jingi tiu

Agama ini didedikasikan untuk penyembahan terhadap leluhur. Setiap wilayah di Sabu (Dimu, Liae, Menia, Mesara dan Seba) memiliki (atau pernah memiliki) paling tidak satu Pemimpin agama leluhur yang disebut Mone Ama. Dan setiap wilayah memiliki kalendar ritual masing-masing (kalendar adat atau kewehu rai) serta memiliki penghitungan tersendiri dalam menghitung hari ritual dalam bulan kamariah.

Setiap Dewan Mone Ama terbentuk berdasarkan sejarah. Dan struktur Dewan Mone Ama ini sangatlah rumit. Anggotanya bisa berasal dari satu suku (udu) saja atau campuran dari beberapa suku yang pada awalnya mereka bersaing atau bersekutu.

Di Seba, Mesara dan Liae, Mone Ama tertinggi adalah Deo Rai, “Tuan Tanah” (Lord of the Land). Jabatan kedua bisa beragam: misalnya di Mesara jabatan kedua disebut Rue (“Dewa Kemalangan”) sedangkan di Seba, jabatan kedua dijabat oleh Apu Lod’o (“Keturunan Anak Matahari”). Yang lain berjulukan Doheleo (“Pengawas”) dan Maukia (“Pendoa Perang”). Setiap anggota Mone Ama memiliki pembantu (Bawa iri) ketika melakukan tugas ritual.

Tugas anggota Mone Ama selalu berkaitan dengan kaum pria. Akan tetapi seorang Dewa tidak boleh melakukan tugasnya tanpa keterlibatan istrinya (Beni Aji). Maka dari itu seorang anggota Mone Ama harus dalam ikatan suatu pernikahan dan kalau menjadi duda, anggota Mone Ama tersebut harus mengundurkan diri dari posisinya. Orang-orang Sabu selalu percaya bahwa tugas-tugas pelengkap yang diemban oleh pria dan wanita adalah sangat penting demi keseimbangan kosmik.

Ritual keagamaan agama tradisional Jingi tiu, dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat. Sesajen atau persembahan ditempatkan di atas balokan bersilang dan di kaki tiang-tiang rumah, juga di pohon-pohon dan batu-batu tertentu serta tempat-tempat yang diyakini memiliki hubungan istimewa dengan para leluhur.