Kebudayaan

SEJARAH RITUAL ADAT HOLE WILAYAH ADAT MAHARA

KABUPATEN SABU RAIJUA.

     Hole merupakan upacara adat  yang sangat populer dikalangan masyarakat Sabu Raijua yang dilakukan secara massal.  Upacara Adat ini menjadi sangat populer karena hanya dilakukan satu kali dalam setahun sehingga memikat banyak wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal termasuk orang Sabu Raijua yang selama ini berada diluar daerah untuk turut  serta dalam kemeriahan dan kegembiraan ritual adat tersebut. Selain itu, Ritual adat Hole mengandung beberapa nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan orang Sabu Raijua,antara lain Nilai kepercayaan, nilai kesadaran, nilai persatuan dan kesatuan, nilai etika, nilai estetika, nilai kesetiaan serta nilai yuridis.

     Ritual adat Hole akan dilaksanakan sesuai dengan kelender adat Masyarakat sabu raijua yang telah ditetapkan secara turun temurun oleh nenek moyang orang Sabu Raijua sejak dahulu kala. Kegiatan Adat Hole ini akan dilaksanakan tepat pada War”ru Bangaliwu dalam perhitungan Kelender adat atau sekitar Bulan Mei atau Juni dalam perhitungan Kelender Masehi. Pelaksanaan Kegiatan Hole akan diatur sesuai dengan Kelender adat Pada Wilayah Adat di Kabupaten Sabu Raijua, yang mana terdapat 5 Wilayah adat yakni Wilayah Adat Hab”ba yang wilayah administrasinya di Kecamatan Sabu Barat, Wilayah Adat Raijua yang wilayah administrasinya di Kecamatan Raijua, Wilayah adat Liae yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sabu Liae, Wilayah Adat Mahara yang terletak di wilayah administrasi Kecamatan Hawu Mehara, serta Wilayah Adat Dimu yang terletak di wilayah Administrasi Kecamatan Sabu Timur dan Kecamatan Sabu Tengah.  Ritual Adat Hole yang dilaksanakan Di Wilayah Adat Mahara yang kegiatannya dilaksanakan di Desa Rame Due , Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua.

     Menurut Budaya tutur orang Sabu Raijua secara turun temurun, Munculnya upacara Adat Hole ketika Manusia pertama orang Sabu yang bernama KIKA GA yang konon katanya punya kesaktian pada masa itu, ingin memperluas Wilayah Pulau Sabu ,yang mana pada zaman itu, Pulau Sabu belum berbentuk seperti saat ini. Pada Masa KIKA GA Pulau Sabu hanya berbentuk  tanjung Kecil yang dinamakan HU PENYORO MEA yang saat ini terletak di Desa Dainao, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Atas dasar perluasan wilayah kekuasaan itulah, KIKA GA dengan kesaktiannya pergi ke sala satu pulau DJAWAWA yang saat ini menjadi Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua. Pulau DJAWAWA /RAIJUA di huni oleh pejabat adat yang punya kesaktian yang sangat tinggi yaitu MONE WEO dan BANNI BAKU.  Dengan kesaktian yang dimiliki oleh KIKA GA maka ia pergi secara diam-diam serta berubah wujud menjadi burung agar bisa mengelabui penjaga rumah adat Mone Weo dan Banni Baku di pulau Raijua. Untuk dapat mengambil tanah di kolong rumah adat milik MONE WEO dengan tujuan  menimbun HU PENYORO MEA agar menjadi pulau yang besar seperti Pulau Sabu Saat ini. Pada suatu hari maka KIKA GA tertangkap basah oleh para penjaga rumah adat yang berubah wujud menjadi tikus, sedang mengambil tanah di bawa kolong rumah adat MONE WEO. Oleh sebab itu tikus penjaga rumah Adat mulai mencari akal agar Kika Ga yang Berubah wujud menjadi burung tersebut bisa tertangkap. Maka tikus penjaga rumah adat berkoordinasi dengan Mone Weo dan dengan keyakinan atas kesaktian Mone Weo ,maka tikus penjaga rumah adat menyuruh Mone Weo untuk memanggil Hujan pada malam hari. Karena malam begitu dingin maka Tikus Penjaga Rumah adat pergi untuk mengelabui Kika Ga dan dengan berlindung di cela sayap burung  dengan alasan kedinginan. Pada saat tikus penjaga rumah adat tersebut, berlindung di cela sayap Kika Ga yang berubah wujud menjadi burung maka sehingga sebagai penguasa di Pulau DJAWA WAWA , MONE WEO marah serta menangkap KIKA GA serta menanyakan alasan KIKA GA mengambil secara diam-diam tanah di bawa kolong rumah adat MONE WEO dan BANNI BAKU.

     KIKA GAH ketika ditangkap dan diadili oleh MONE WEO dan BANNI BAKU maka dengan jujur ia menjelaskan maksud dan tujuannya mengambil tanah dari Pulau DJWAWA WAWA atau Pulau Raijua yaitu untuk memperluas daerah kekuasaan Pulau Sabu. Mendengar penjelasan tersebut maka MONE WEO dan BANNI BAKU mengijinkan KIKA GA untuk mengambil tanah dari bawa kolong rumah adat MONE WEO dan BANNI BAKU dengan suatu persyaratan bahwa setiap akhir tahun sesuai perhitungan kelender adat Masyarakat adat Sabu Raijua, KIKA GA dan keturunannya kelak harus mempersembahkan dan membayar upeti atau dalam bahasa Sabu disebut IHI RAI kepada MONE WEO dan BANNI BAKU. Itulah Sebabnya, dalam proses Ritual Adat Hole  ada pelepasan KOWA/Perahu Hole yang berisi hasil-hasil panen masyarakat baik berupa tanaman maupun hewan yang dilaksanakan di Pantai UBA AE, Desa Rame Due , Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Kowa Hole tersebut akan dilepas ke tengah lautan dan akhirnya akan menuju ke Pulau Djawa Wawa/Raijua.

     Ritual Adat Hole yang merupakan tradisi turun temurun masyarakat Sabu Raijua memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Kegiatan Upacara adat  LIBA DOKA  artinya menghamburkan aroma harum pada ladang, kebun dan seluruh tanah di daratan Pulau sabu, sehingga tanaman pangan, hewan dan Pohon –pohon yang hidup dapat memberikan hasil yang berbau harum. Dalam kegiatan ini semua masyarakat adat membuat ketupat  yang akan diisi oleh biji jagung ,biji kacang hijau dan gumpalan nasi. ketupat-ketupat tersebut akan di letakan pada setiap penjuru tanah daratan pulau Sabu yaitu dilembah,gunung,hutan,lereng,pantai,kebun, sawah dan ladang  pertanian milik masyarakat adat sabu raijua. Kegiatan upacara adat ini diawali oleh Pejabat adat Mone Ama menaruh ketupat adat didalam kebun adat dan di seluruh tanah daratan pulau sabu.

 

2. Kegiatan Upacara adat BUI IHI yang artinya membersihkan diri,  menghitung jumlah anggota keluarganya masing-masing,baik laki-laki, perempuan termasuk bayi yang lahir pada tahun tersebut maupun anggota keluarga yang sudah meninggal. Dan  yang melaksanakan perhitungan ini adalah masing-masing kepala keluarga,  setiap keluarga di dalam rumah tangga membuat ketupat adat yang disebut KEDUE DUNU yang artinya  Tritunggal. Ketupat tritunggal tersebut diisi dengan biji jangung, kacang hijau,dan gumpaln nasi, semua  biji-biji pangan  harus sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang hidup dan yang sudah meninggal dan jumlahnya sama di masing-masing ikatan ketupat tritunggal.

Ikatan pertama dari Ketupat tritunggal diperuntukan bagi anggota keluarga mereka yang sudah meninggal, ketupat tersebut diletakan pada tiap kuburan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ikatan Kedua ketupat tritunggal diperuntukan bagi anggota keluarga yang masih hidup,.

Ketupat akan diikat pada tiang rumah adat mereka masing-masing, dan ikatan ke tiga ketupat  tritunggal dipertuntukan bagi Hewan dan ternak  peliharaan yang akan diikat apa tiap pintu kandang ternak. Apabila telah selesai kegiatan tersebut maka pada malam harinya dilaksanakan kegiatan tarian Pedoa BUI IHI  yang melibatkan seluruh masyarakat ada.

 

3. Kegiatan Upacara GAU DERE HOLE, Dere adalah tambur/beduk Hole. Beduk Hole ini disimpan dalam Rumah adat yang bernama " DUE DURU” yaitu tempat tinggal dan kerja Pejabat Adat Mone Ama " DEO RAI”. Dan bila tiba penyelenggaraan  Upacara Hole maka beduk Hole akan diturunkan dari tempat gantungannya oleh DEO RAI lalu di letakan pada tiang rumah adat DUE DURU, untuk didiamkan selama satu malam sebelum digunakan dalam Uapacara tersebut.

 

4. Kegiatan Upacara PE ADDO DERE HOLE upacara ini dilakukan agar Beduk HOLE selama semalam sentuh didiamkan atau ditenangkan dan tidak ada seorangpun yang menyentuhnya, setelah tepat jam 3 tengah malam harinya baru boleh Beduk Hole dianggkat oleh DEO RAI dan akan dibawah untuk diletakan di atas cabang pohon nitas yang hidup di samping altar adat NadaHari.

5. Kegiatan Upacara NGAA HOLE, artinya Makam malam adat Hole. Pada kegiatan ini semua para pejabat adat dan masyarakat adat  duduk bersama-sama untuk melakukan perjamuan makan  makanan upacara adat bersama sebagai wujud syukur kepada Tuhan Pencipta Pemberi Kehidupan.

 

6. Kegiatan Upacara LINGO DERE HOLE.  Artinya Menjaga penuh hikmad Beduk Hole Dalam kegiatan ini DEO RAI mengangkat Beduk Hole dari Cabang pohon nitas lalu diletakan diatas altar adat Nada Hari. DEO RAI dan pejabat adat  RATU MONE PIDU (tujuh Pejabat laki-laki) beserta seluruh masyarakat adat duduk menjaga penuh hikmad melingkari altar Nada hari yang mana Beduk Hole di letakan. Semua yang hadir melantumkan syair-syair  adat "BURU DERE HO”  Selama satu malam sentuh dan Deo rai yang mengawali melantunkan pujian dan nyanyian adat " buru dere ho” sambil diikuti oleh seluruh masyarakat adat yang hadir, lamanya dalam melantunkan syair Buru dere Ho kurang lebih 7 jam sampai subuh, dalam kegiatan ini tidak boleh seorangpun melakukan pelanggaran.

 

7. Kegiatan Upacara ANYNYU KEDUE HOLE artinya Mengayam Ketupat Tritunggal Hole”, dalam kegiatan ini tidak beda dengan kegiatan upacara  BUI IHI pada poin ke 2,  semua kaum perempuan di masing-masing rumah tangga dan keluarga pada malam hari sebelum keesokan hari  puncak pelepasan Perahu Hole,kaum perempuan  membuat ketupat Tritunggal (Kedue HOLE)  yang akan di bawah untuk diletakan dalam perahu HOLE, sebagai wujud persembahan  kepada Tuhan (DEO AMA  pemberi kehidupan.

8. Kegiatan Upacara adat PELALA KOWA HOLE artinya Melepaskan Perahu Adat Hole” Kegiatan upacara PELALA KOWA HOLE ini merupakan puncak dari semua rangakaian  Kegiatan Upacara adat Hole pada "Warru Bangaliwu”(Kalender adat) yaitu antara akhhir bulan april s/d awal bulan mei (kalender adat masehi).

Sebagaimana telah diuraikan pada point 7 bahwa Ketupat Tritunggal Hole yang pada malam harinya telah dianyam oleh kaum perempuan dari masing-masing rumah tangga dan keluarga.

Maka pada pagi harinya ketupat tersebut mereka bawah, dan akan diletakan diatas altar adat yang berada di tengah Kampung adat Kolorae yang  merupakan Kampung Pusat penyelenggaraan adat di wilayah adat Mahara, Kampung adat Kolorae terletak diatas puncak  gunung "Pedarro” tinggi kira-kira 50 meter.

 

Setelah semua masyarakat adat selesai meletakan Ketupat Upacara, maka DEO RAI bersama Anggota-anggotanya memulai membaca doa-doa dan mengurapi seluruh Ketupat Tritunggal dengan meminyaki oleh minyak suci adat oleh DEORAI.

Ketupat tri tunggal di ikat menjadi satu lalu DEORAI dan Anggota-anggotanya bersama masyarakat adat membawa Ikatan ketupat tri tunggal dari Kampung adat Kolorae di Desa Pedarro menuju ke pelabuhan adat Uba ae dengan berjalan kaki.

Selama perjalanan DEORAI melantunkan Syair BURU DERE HO sambil diikuti dan dinyanyikan oleh seluruh masyarakat adat.

Kemuruh meriahnya  irama lantunan syair yang dinyanyikan bersahut-sahutan oleh semua masyarakat adat, rute perjalanan yang ditempuh sekitar 2 kilo meter lebih sampai ke lokasi Pelepasan Perahu adat Hole yaitu di Pelabuhan Uba ae di Desa Rame Due, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua.

Setelah tiba di pelabuhan adat uba ae, maka DEO RAI dan Anggota-anggotanya dan dibantu oleh Tokoh-tokoh adat merakit Perahu Adat Hole, dan apa bila sudah selesai merakit Perahu, maka semua Ikatan-ikatan Ketupat tri tunggal adat Hole yang di bawah dari Kampung induk adat Kolorae di Desa Pedarro.

Ketupat diletakan dan disusun sesuai urutan ke 12 Suku-suku yang mendiami wilayah adat Mahara. Sebelum Perahu dilepaskan, DEORAI dan anggota-anggotanya membacakan doa dan mengurapi perahu sambil berjalan melingkari Perahu, setelah selesai mengurapi perahu adat Hole, maka perahu diangkat untuk dilepaskan ke lautan. Setelah selesai di lepaskan maka, seluruh Masyarakat adat kembali menuju arena Pacuan Kuda adat Hole, dan ke arena Taji ayam Adat Hole yang tidak jauh dari Pelabuhan adat Ubaae. Kegiatan pacuan kuda dan Taji ayam ini adalah sebagai wujud kebahagian dan suka cita yang mana mereka telah menyelesaikan kegiatan Akbar adat dengan damai dan aman.

 

     OLEH : JEFRISON HARIYANTO FERNANDO dan YUDSON TP BUNGA

In a Nutshell

Savu is located in the Lesser Sundas of eastern Indonesia (Nusa Tenggara Timur) half way between Sumba and Timor. The Savu archipelago includes Savu, Raijua and Dana and gave its name to the sea bordering Flores, Timor and Sumba. The Savu archipelago is part of the Savu Sea Marine National Park, whose aim is the protection and conservation of all types of marine mammals such as whales, dolphins, dugongs and turtles.

The Climate is dry for most part of the year. The rainy season from December to March brings irregular, but heavy rain and its share of floods near the coasts. Due to the scarcity of water the island produces few agricultural goods. It does allow one harvest of corn, mung beans, sorghum, tubers (cassava, taro), and cucurbitaceae (gourds, pumpkin, cucumber). Wet rice is restricted to the fewareas of the island which can be irrigated.

During the six to nine months of the dry season all river beds are dry and water supply is a main concern in the archipelago. The dry season is known here asawe menganga (musim lapar, B.I.), the hungry season. The sap the lontar palm tree provides an essential source of nutrition

Savu has numerous white sandy beaches, protected by reefs. Some beaches played a role in history like the beach between the harbour of Seba and the walled village of Bodo; it served as a landing place for Captain James Cook and his crew in 1770.

The beach of Uba Ae in Mesara hosts the most important ceremony of the year, kowa hole, where a ceremonial boat is launched out to sea.

Uba Ae in Mesara, as well as beaches of Raijua, is visited by surfers.

Gathering of sea food on reefs, small scale fishing activities, gathering of sea salt, sea weeds farming. Sea salt gathering using large shells or lontar containers has been a traditional activity on Savu and Raijua. In the last fifteen years seaweed farming has developed along the west and southeast coasts, bringing a new source of revenue to those living near the beaches.

Things to DO at Sabu Raijua

    • Wisata Alam

      Wisata Alam

      If the genealogies transmitted by the priests are used as a means of measuring time, Savu�s memory goes back to the first millennium CE (Sriwijaya period)

    • Wisata Bahari

      Wisata Bahari

      To see in a half day : Around Seba: Bodo (beach and village), Namata. To visit in a day: West Savu, East Savu, Liae. Walking tours from Seba

    • Wisata Budaya

      Wisata Budaya

      The large majority of the population is Christian; A small community of Moslems live near the harbour and in the town of Seba. Around 10% of the population follow the traditional a ...

    • Wisata Buatan

      Wisata Buatan

      The megaliths of Savu are natural wonders. They are not burial places, but physical time markers. They were dragged to ritual places from various parts of the island.

    • Kalender Adat

      Kalender Adat

      Each domain of Savu has its own ritual calendar (kalender adat or kewèhu rai, the knots of the land) as well as a specific number for calculating the day of a ritual in the lunar m ...

    • Upacara Adat

      Upacara Adat

      A village of origin or rae kepue is (or was) fenced, has a number of houses of the type èmu rukoko, a ritual place and sacred stones

    • Tarian Tradisional

      Tarian Tradisional

      Ceremonies of the adat calendar are linked to the traditional religion Jingi tiu. They are held for the well-being of the population, for connecting people with their ancestors

    • Agama Suku

      Agama Suku

      Traditional houses on Savu bear witness to a rich historical and cultural legacy. Today they still can be seen in all parts of the island, fulfilling their purpose as identity mark ...

    • Tenunan

      Tenunan

      The lontar palm tree has been for centuries the tree of life for the Savunese who drink its sap during the dry season. Every part of the tree is used in everyday life and for cerem ...